Rabu, 07 April 2010

4 NEWBIE IN THE FIELD OF DAKWAH

Sekarang ini saya sedang menyelesaikan buku ke dua saya. Di salah satu babnya, ada pembahasan tentang tanda-tanda kiamat. Dalam research saya, saya menemukan dua ayat yang saya rasa sangat penting buat diketahui oleh teman-teman yang sampai sekarang aktif di dunia dakwah, terutamanya lagi bagi kawan-kawan yang masih newbie.

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai 'uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?." Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (kami)." Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?." Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (QS. An Nisaa 4: 95-97)

Kata “berperang” dan “berjihad” dalam ayat di atas bisa juga diartikan sebagai “berjuang di jalan Allah”. Berjuang dalam konteks kekinian – seperti kata Harun Yahya” – tidak harus dengan kekuatan senjata. Karena jaman sekarang adalah jaman informasi, perjuangan itu bisa juga dilakukan dengan informasi juga. Berjihad dengan ilmu. Dan itulah yang sedang kita lakukan bersama kawan. Hanya saja apakah kita sudah ikhlas dalam melakukannya? Jika belum, semoga kita sama-sama bisa menata hati untuk bisa lebih ikhlas dalam memperjuangkan agama Allah.

Sehubungan dengan perjuangan ini, Nabi mendefinisikan masa di mana kita hidup ini sebagai masa yang penuh dengan kekacauan. Nabi memerintahkan ummatnya – kita – yang hidup di jaman kekacauan ini untuk memperjuangkan agama Allah yang Hak, meski harus merangkak di atas salju. Meski kita harus berjuang mati-matian sampai nyawa juga dipertaruhkan.

Berdasarkan ayat di atas, berjihad atau memperjuangkan agama Allah adalah sebuah kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu. Mampu dalam artian memiliki ilmu dan juga potensi tentunya, jika perangnya adalah perang pemikiran atau ghazwul fikr. Menuntut ilmu dalam hal ini adalah memperkuat senjata dan kekuatan kita untuk berperang. Lalu karena hal ini merupakan kewajban bagi kita, kita juga harus ingat ancaman Allah bagi kita yang sengaja melalaikan kewajiban atau bahkan menentang hukum Allah ini.

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzab 33: 36)

Wallohua’lam bish-showab

By, Arudatu

Jumat, 29 Januari 2010

tentang Hizib

Selama ini banyak diantara kita yang memiliki pandangan miring tentang Hizbuth Tahrir (Hizib). Banyak diantara umat Muslim sendiri yang memandang Hizib sebagai ormas Islam radikal yang suka mencela orang lain, bahkan mencela sesama umat Muslim. pandangan semacam ini kerap juga datang dari sesama aktifis dakwah. Bahkan ada orang yang memandang, atau bahkan menuduh Hizib sebagai penganut aliran Wahabi.

Untuk mengetahui siapa dan apa itu Hizib, pertama kita harus tahu sekilas mengenai sejarah Hizib. Sebagaimana kita semua tahu, tanah Al Quds selama ini dalam penjajahan Israel laknatulloh. Hizib sendiri lahir dari kancah pergolakan bumi Palestine. Jika Hamas dan Fatah memfokuskan perjuangan mereka untuk membebaskan tanah air mereka, maka fokus dari perjuangan Hizib lebih dari itu. Hizib memfokuskan diri pada penyatuan umat Islam secara global, menegakkan kembali harga diri umat Islam, menegakkan hukum syari’ah secara menyeluruh dalam setiap sendi kehidupan manusia sampai tebentuknya sebuah sistim kesatuan umat Islam yang disebut khilafah.

Hizib lahir di tanah Al Quds pada 1953. Didirikan oleh Syaikh Taqiyuddin An Nabahani, seorang hakim di pengadilan syariah Palestine dan seorang alumni universitas Al Azhar Mesir. Beliau juga seorang anggota Ikhwanul Muslimin yang pandangan politiknya banyak diadopsi oleh PKS (meski banyak ikhwanul muslimin yang dicap sebagai teroris maupun antipemerintah beberapa dekade ini, dikarenakan perubahan haluan politik Ikhwanul Muslimin di berbaga negara)

Hizib kini telah tersebar di berbagai negara di dunia. Hizib dalam waktu yang relatif singkat sudah menyebar ke seluruh negara arab di timur tengah. Kemudian tersebar ke Mesir, Libia, Sudan, Aljazair, Turki, Inggris, Perancis, Jerman, Australia, Jepang, Belanda, negara-negara eropa lainnya, AS, Rusia, Uzbekistan, Kirgistan, Tajikistan, Pakistan, Malaysia, Indonesia, Australia,dan beberapa negara lainnya. Hizib sendiri mulai masuk ke Indonesia pada dekade 1980an.

Jika kita cermati, dalam beberapa hal (yang positif tentunya) cara kerja Hizib memiliki kemiripan dengan cara kerja zionis. Namun dalam hal ideologi sama sekali berbeda. Jika zionis internasional memperjuangkan keberlangsungan sekularisme, kapitalisme, pruralisme, dan liberaisme, maka Hizib Internasional memperjuangkan khilafah dan tegaknya syariah Islam. Jika paham lain memandang urusan politik tidak bisa disatukan dengan agama, maka Hizib memandang urusan politik itu tidak bisa dipisahkan dari Islam. Hal ini karena satu-satunya hukum yang secara total dan mengakar mengatur manusia adalah syariah. Satu-satunya hukum yang diciptakan oleh sang Maha Pencipta adalah Syariah. Dan dalam hal politik, Hizib memandang politik itu bersifat menyeluruh. Politik dalam pandangan Hizib adalah pengaturan urusan umat di dalam dan luar negeri, yang dilakssanakan oleh umat dan negara. Negara berfungsi sebagai yang menjalankan, umat berfungsi sebagai pengawas. Mirip dengan demokrasi, namun lebih sempurna.

Sekarang ini, kekuatan Hizib sebagai institusi politik Islam di dunia internasional mulai diperhitungkan. Namun umat Islam di Indonesia seakan sengaja dibutakan oleh media terhadap keberadaan Hizbuth Tahrir Indonesia, maupun Hizbuth Tahrir Internasional. Pada pertengahan tahun 2007 lalu, Hizbuth Tahrir Indonesia mengadakan konferensi khilafah Internasional. Tokoh nasional yang diundang antara lain Amin Rais, Rizieq Shihab, dan beberapa orang lainnya. Habib Rizieq Shihab sendiri tidak dierbolehkan datang oleh kepolisian RI. Tokoh Hizib Internasional yang diundangpun banyak yang secara misterius dihalangi oleh beberapa pihak untuk datang, dicekal, atau tanpa alasan yang jelas ditangkap oleh pemerintah negara tempat mereka tinggal. Tokoh Hizib Inggris sudah sampai di bandara Soekarno Hatta, namun pada hari itu beliau langsung dideportasi. Tokoh Hizib dari Palestine dilarang meninggalkan bandara Tel Aviv. Tokoh Hizib Australia dicekal. Yang berhasil memenuhi undangan waktu itu hanya tokoh dari Jepang dan Oman.

Semenjak saat itu, Hizbuth Tahrir Internasional menjadi kekuatan yang diperhitungkan dalam dunia perpolitikan Internasional. Namun anehnya peristiwa ini sama sekali tidak diberitakan di media lokal. Padahal panitia penyelenggara di Jakarta banyak mendapat pertanyaan dan permintaan wawancara dari media asing seperti Al Jazeera dan AFP. Hal ini menunjukkan bagaimana kekuatan Islam sampai saat ini masih sangat ditakuti oleh dunia barat, terutama oleh Zionis Internasional. Hanya berkumpul saja sudah sangat diupayakan untuk tidak sampai terjadi.

Memang ada beberapa orang yang mengatasnamakan Hizib yang mengeluarkan statement yang kurang mengenakkan, yang terkesan menyakitkan untuk sebagian umat Islam. Namun itu hanya pernyataan sebagian orang saja. Hal itu tidak mewakili pendapat Hizib secara menyeluruh. Memang ada sebagian kader Hizib yang bersikap keras dan emosional. Namun hal ini juga tidak mewakili Hizib secara keseluruhan. Dalam Hizib sendiri ada berbagai macam orang. Ada kader hizib yang berasal dari NU, Muhammadiyah, bahkan dari FPI. Masing-masing kader Hizib juga memiliki Mahzab yang beragam, ada yang penganut mahzab imam Hanafi, Syafi’i, bahkan ada pula teman-teman dari salafiyah. Apapun itu, selama masih berada dalam payung Ahlussunah.

Berbicara mengenai Hizib tentunya tidak akan lepas dari yang namanya politik. Dalam pandangan demokrasi dan kehidupan sekuler, yang dinamakan politik adalah cara yang sistimatis untuk meraih kekuasaan dan mempertahankannya. Maka tidak heran jika para praktisi politik adalah orang-orang yang ambisius, oportunis, dan tak jarang merupakan orang-orang yang tidak memiliki nurani. Atau dalam bahasa Quran disebut dengan orang-orang yang hatinya sudah terkunci. Sedangkan dalam pandangan Islam, dimana segala macam urusan itu terhubung dengan Allah dan diatur oleh Al Quran dan Hadist, politik adalah pengaturan segala urusan umat. Mulai dari urusan dakwah, kesejahteraan umat, sampai bagaimana mekanisme pengawasan oleh umat terhadap institusi negara. Segala kegiatan dalam pandangan Islam tidak pernah lepas dari hukum syariah. Segala yang kita lakukan dari bangun tidur sampai bangun lagi diatur dalam Islam. Segala kegiatan dalam pandangan Islam juga merupakan media untuk beribadah kepada Allah. Termasuk dalam hal ini dalam berpolitik. Dan politik dalam Islam adalah mengurus dan memelihara segala urusan-urusan umat sesuai dengan hukum Syariat.

Sampai saat ini, setahu saya hanya Hizib satu-satunya pergerakan ummat Islam internasional yang masih tetap konsisten dalam memperjuangkan tegaknya syariah Islam tanpa tudung aling-aling ataupun ageda tersembunyi,serta tetap konsisten membela segala urusan ummat Islam. Bagi kalangan politisi di negara ini mungkin hizib dipandang miring atau bahkan berbahaya karena memiliki potensi untuk melakukan makar (dikarenakan dipandang berseberangan dengan ideologi politik negara. Padahal dalam pandangan hizib, sebuah negara bisa berjalan dengan baik jika para pelaku pemerintahan dan elit politiknya memiliki ketinggian kecerdasan emosional maupun spiritual. Untuk itu maka hizib sebagai partai politik menjadikan dakwah Islam sebagai pondasi perderakannya. Proses kaderisasi dilakukan secara radikal dengan metode liqo’. Wallohua’lam Bish-showab.

Minggu, 21 Juni 2009

Makna Syahadatain

Makna Syahadatain



Jika kita ditanya mengenai rukun iman dan rukun Islam, tentu kita semua tahu dan tentunya kita juga bisa menyebutkannya satu per satu. Namun berapa banyak dari kita yang bisa benar-benar menerapkannya dan benar-benar menghayati makna dari kedua rukun itu?


Rukun iman yang pertama dan kedua adalah iman kepada Alloh dan iman kepada Nabi. Dan rukun Islam yang pertama adalah mengucapkan dua kalimat syahadat. Dua hal ini menunjukkan penekanan terhadap pentingnya syahadat terhadap diri seorang muslim. Tetapi meski begitu, masih banyak dari kita yang memaknai syahadat hanya sebatas apa yang diucapkan oleh lisan saja dan tidak benar-benar menancapkan maknanya dalam hati dan jiwa kita.


Namun sebelum memahami makna dari syahadat, kita perlu tahu apa itu syahadat. Syahadat adalah ikrar yang kita ucapkan sebagai kesaksian kita terhadap kebenran ajaran agama Islam. Dan sebagaimana estinya sebuah ikrar, ketika diucapkan ada konsekuensi-konsekuensi yang harus dilakukan bersamaan dengan diucapkannya ikrar tersebut. Dan sebagaimana sebuah ikrar, ketika diucapkan harus juga dengan sepenuh hati, diyakini dengan sepenuh jiwa, dan dicerminkan dalam tindakan kita sehari-hari.


Kesaksian Terhadap Keesaan Alloh SWT



Kalimat syahadat yang pertama adalah pernyataan tidak adanya Illah selain Alloh. Kata “Illah” dalam kalimat Laa Ilaaha Illalloh tidak hanya bermakna “Tuhan” namun lebih dari itu. Kata Tuhan dalam bahasa Arab bisa disebut dengan Robb atau Robbi. Kata Illah berarti the ultimate one yang benar-benar mutlak, tidak ada lagi yang lainnya, yang benar-benar hanya ada Alloh Yang Maha Esa, tidak ada yang lainnya, yang benar-benar disembah, dicintai, ditakuti, dan benar-benar dipuja selain Alloh SWT.


Sebagai konsekuensi dari hal ini adalah, kita tidak boleh lagi memuja segala sesuatu melebihi Alloh SWT. Tidak lagi mencintai selain-Nya melebihi dosis kecintaan yang semestinya. Tidak lagi menjadikan materi sebagai obsesi dan orientasi hidup, tidak mempercayai perkataan “orang pintar”, serta tidak berdoa memohon pertolongan kepada selain Alloh SWT – meskipun hal tersebut adalah menjadikan sesuatu tersebut sebagai “perantara” untuk memohonkan doa kepada Alloh SWT. Doa adalah puncak dari ibadah seorang muslim kepada Tuhannya, dan sudah semestinya hal ini dilakukan tanpa perantara. Dan sesungguhnya Alloh menyukai hamba-Nya yang berdoa pada-Nya. Maka jika demikian bukankah jika kita langsung meminta kepada Alloh SWT!?


Pada masa jahiliyah, banyak diantara penyembah berhala yang menolak untuk mengucapkan kalimat Syahadat karena konsekuensi menyebut Alloh sebagai Illah adalah sangat berat. Mereka tidak lagi bisa menuhankan, mengidolakan, memuja, atau mencintai selain Alloh, melebihi Alloh sendiri, dan mereka harus meninggalkan agama dan tradisi lama yang selama ini mereka jaga. Hal ini harus benar-benar kita sadari, karena kenyataan di sekitar kita sampai saat ini, masih banyak umat Islam yang masih belum bisa menempatkan Alloh sebagai “Illah”. Masih banyak diantara kita yang masih menempatkan Alloh sebagai “Rabb” saja. Masih banyak diantara kita yang masih memelihara tradisi-tradisi yang sebenarnya berseberangan dengan syariah. Sebut saja seperti kejawen, haul, ruwatan, selametan, atau tradisi lain yang sebenarnya itu bid’ah yang nabi sendiri tidak pernah mengajarkannya kepada kita. Dan sekalipun itu tradisi, jika Nabi tidak mengajarkan, maka kita akan mendapatkan adzab Alloh karena dalam hal ibadah, apa yang kita lakukan harus benar-benar didasarkan atas apa yang dicontohkan secara langsung oleh nabi, ataupun diisyaratkan oleh nabi sendiri bahwa hal itu boleh. Suatu ibadah tidak boleh didasarkan pada qiyas ataupun pendpat semata. Harus ada Nash yang jelas.


Kemudian lagi-lagi hal ini berawal dari kecintaan yang berlebihan terhadap sesuatu selain Alloh. Dan dengan kata lain, percuma jika kita bersyahadat, tetapi masih mengamalkan semua itu. Percuma juga kita ibadah dalam hidup ini jika Illah kita bukan Alloh. Illah dalam hal ini bisa berupa suatu paham, uang, jabatan, atau wanita. Bisa juga berupa hal-hal klenik yang sesungguhnya tidak masuk akal.


Illah dalam konteks ibadah adalah sesuatu yang benar-benar disembah, dicintai, ditakuti, dijadikan obsesi, dan dijadikan orientasi hidup. Jika Illah kita bukan Alloh, atau kita tidak memiliki Illah, maka bisa dibayangkan bagaimana efeknya.


Kesaksian Terhadap Kerasulan Rasululloh Muhammad SAW

Dengan bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasululloh, maka secara otomatis kita juga bersaksi bahwa kita mencintai Nabi Muhammad SAW melebihi cinta kita terhadap semua makhluk Alloh, bahkan mencintai beliau melebihi orang tua kita sendiri. Setiap generasi memiliki nabinya masing-masing, dan Nabi Muhammad SAW adalah nabi kita, yang diturunkan pada untuk kita, yang diutus untuk kita.


Kita sebagai umat Islam tentunya mengenal siapa itu Nabi Muhammad SAW. Namun, hampir dapat dipastikan jika kita yang mengaku Muslim ini mencintai beliau tidak sebagaimana mestinya. Kita seharusnya mencintai Alloh SWT dan Nabi Muhammad SAW melebihi orang-tua kita, pacar kita, bahkan nyawa kita. Namun kenyataannya, meski kita mengakui beliau sebagai Nabi kita, banyak diantara kita yang lebih mengidolakan artis daripada Nabi Muhammad SAW. Bahkan sosok Nabi Muhammad SAW hanya seorang legenda saja dalam benak kebanyakan dari kita.


Jika kita memang benar mencintai Nabi kita Muhammad SAW, tentunya kita akan mempelajari hadist beliau, biografi beliau beserta tingkah laku beliau tanpa pernah bosan, sampai sedetail-detailnya, sampai hal yang sekecil-kecilnya agar kita bisa menjadi seperti beliau. Namun apa nyatanya kawan? Banyak diantara kita yang tidak mengenalnya. Kita hanya mengenalnya sebatas cerita. Banyak dari kita bahkan tidak benar-benar mengimaninya sebagai Rasul – dalam artian, banyak hal yang beliau ajarkan, enggan untuk kita ikuti. Bahkan kita menjadi fobia terhadap ajaran beliau – yang kita sebut sebagai syariah Islam. Kita seharusnya malu kawan.


Nabi kita sangat mencintai kita umat Islam ini sebagai umatnya. Sampai-sampai pada waktu ajal sudah di depan beliau, Nabi masih memikirkan umatnya. Ketika nyawanya dicabut, Nabi bertanya pada Malaikat apakah umatnya bakal merasakan rasa sakit yang sama, Malaikat menjawb jika umatnya bakal merasakan yang lebih sakit lagi. Lalu beliau meminta Malaikat untuk menimpakan semua rasa sakit yang nanti akan dirasakan oleh umat beliau. Ketika nyawa beliau sudah sudah berada di tenggorokan, beliau bahkan mengucapkan Ummati,…. Ummati,… Umati,…yang artinya “Umatku,…Umatku,…Umatku,…”[1] yang menunjukkan bahwa sampai maut menjemputnya, Nabi masih begitu memikirkan umatnya, karena cintanya terhadap umatnya yang sangat dalam.


Lalu kawan, jika cinta Nabi pada kita sampai segitunya, dan dengan ajaran beliau yang begitu agung dan mulianya, apa pantas jika kita mencintai Nabi Muhammad hanya sebatas seperti pemaparan di atas? Apakah kita tidak malu pada diri kita sendiri? Atau dengan kata lain, apa masih pantas kita mengaku sebagai umat Islam? Jika memang cinta kita terhadap beliau hanya sebatas itu, jika memang kita fobia terhadap syariah Islam, tidak mau menerima syariah Islam tanpa mempelajarinya terlebih dahulu, kenapa tidak buang saja sekalian keislaman kita? Toh hal itu tidak ada bedanya karena kita tidak mencintai Nabi Muhammad SAW sebagaimana mestinya.


Nabi Muhammad SAW itu seorang manusia biasa kawan. Beliau diturunkan di dunia ini untuk menjadi suri tauladan bagi kita semua. Beliau diturunkan di dunia ini untuk kita cintai. Dan apa yang beliau lakukan, tidak ada yang mustahil untuk kita lakukan. Apa yang berasal dari beliau, sudah pasti baik karena pasti berasal dari Alloh SWT. Dan kita diciptakan sebagai umat Islam, umat beliau, seharusnya meneladani beliau dalam semua hal. Dalam hal ibadah, seharusnya kita tidak melakukan ibadah-ibadah yang tidak semestinya. Tidak melakukan ibadah-ibadah yang jelas-jelas tidak dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Tidak melakukan ibadah-ibadah yang tidak jelas tuntunannya, meskipun hal ini diperintahkan oleh ustad kita.


Dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, maka kita dengan sendirinya harus melaksanakan semua perintah Alloh, dan menegakkan Syariah sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhamad SAW. Jadi syahadat itu bukan hanya beruapa ikrar semata, ada konsekuensi logis sebagai umat Islam ketika kita sudah mengucapkanya. Wallohua’lam bisshowab.


By: Arudatu

http://arudatu.blogspot.com

http://detuva.multiply.com



[1] Hadist riwayat Fatimah binti Rasuillah

Selasa, 05 Mei 2009

Dzikir

Banyak dari kita yang memaknai dzikir hanya sebagai ritual, hanya sebagai lantunan kata-kata yang dilantunkan berkali-kali tanpa benar-benar memahami dan menghayati arti dari masing-masing kalimat yang diucapkan. Hanya mantra, tidak ubahnya seperti dukun. Hanya mantra yang diucapkan 99 kali, atau seribu kali untuk mengharapkan sesuatu, tanpa benar-benar meminta, menyebutkan apa sebenarnnya kemauannya itu.

Bagi sebagian dari kita, hanya mengucapkannya saja mungkin sudah bisa mengalami ekstase yang luar biasa. Namun bagi sebagian dari kita yang lain, mengucapkannyaa saja tidak memberi arti apa-apa. Hal ini karena setiap manusia diciptakan berbeda dan pencapaian spiritual setiap manusia pun berbeda-neda antara satu dengan yang lain.

Dzikir tidak cuma Subhanalloh, Alhamdulillah, Laa Ilaaha Ilalloh, dan Allhu Akbar saja. Ketika kita termenung, mencoba memahami permasalahan hidup kita, dengan mencoba memahami apa maksud-Nya dengan semua ini, kita sudah berdzikir. Begitu juga ketika kita termenung, mencoba memahami permasalahan hidup yang sedang kita hadapi, mencoba menangkap apa maksud-Nya dengan memberi kita cobaan yang sedang kita hadapi, itu juga berdzikir. Begitu juga ketika kita sedang menikmati keindahan ciptaan-Nya, tanpa berucap Subhanalloh-pun, kita sudah berdzikir jika kita mengingat Alloh pada waktu itu.

Kemudian hal yang tidak kalah penting, namun seringkali kita lalai adalah pentingnya pemahaman mengenai arti dari masing-masing kalimat toyyibah tersebut. Sering kali kalimat-kalimat itu hanya Cuma sekedar ucapan saja. Hanya sekedar pemanis bibir, tanpa benar-benar menghayati, ataupun memahami arti dan makna sesungguhnya dari masing-masing kalimat tersebut. Berikut ini ada sedikit mengenai makna dari kalimat-kalimat tersebut.
Subhanalloh

Bila diartikan secara bahasa, berarti Mahasuci Alloh, namun bermakana bahwa Alloh itu Mahasuci diatas segalanya. Alloh itu Cuma satu-satunya yang benar-benar suci, dan sumber dari semua kehidupan, memiliki kesucian yang selamanya akan suci dan tidak akan pernah bisa terkotori oleh apapun.

Kata “suci” dalam kalimat ini berarti lebih dari sekedar “suci” dalam arti harfiah. Namun juga suci, murni dalam hal ruhiah. Artinya, jika roh manusia, itu suci – secara manusia adalah makhluk yang paling sempurna – maka Alloh lebih suci, the essence of all essences of life in this world or the after, dan secara lahiriah, serta ruhiah sama sekali berbeda dengan segala yang ada di dunia ini. Atau dengan kata lain, bisa diartikan bahwa jika segala yang ada di dunia ini adalah “kotor”, maka Alloh satu-satunya yang terbebas dari apapun yang mengotori dunia ini, dan Alloh-lah satu-satunya yang “suci” beserta singasana-Nya.
Alhamdulillah

Atau, segala puji bagi Alloh. Tidak ada satupun yang patut dipuji, dicintai, diagungkan melebihi Alloh SWT apalagi disembah. Kalimat ini merupakan salah satu bentuk pengungkapan rasa cinta kita kepada Alloh SWT.

Secara fitrah, kita sebagai manusia ketika mencintai sesuatu, atau seseorang, kita akan cenderung untuk memujinya. Dan kadang kala ketika kecintaan itu sudah akut dan begitu kental, kita akan menjadi terobsesi, mencintainya dengan berlebihan, yang semuanya itu berawal dari pujian. Jika sudah begitu, lebih parah lagi akan menjerumuskan kita menjadi mengkultuskan seseorang yang kita puja dan kita cintai itu, melakukan semua yang dimintanya tanpa pertimbangan akal sehat.

Atau menjadi syirrik karena saking cintanya, sampai-sampai meminta pertolongan atau menyembah yang dicintai itu.

Kita semua sebagai umat Islam, tentunya mencintai Nabi Muhammad SAW jadi kita bersholawat kepadanya. Maka sebagai wujud dari kecintaan kita kepada Alloh, kita tidak memuji selain-Nya dengan berlebihan. Karena Alloh-lah satu-satunya yang patut untuk dipuji tanpa ada satu batasan apapun.

“Segala sesuatu selain Alloh” disini tidak hanya sebatas seseorang, atau suatu benda. Bisa juga “sesuatu” ini berupa satu sistim atau paham – seperti kapitalisme, evolusi (darwinisme), moneterisme, demokrasi, dan lain sebagainya – atau bisa juga berupa uang atau harta dunia yang fana. Dan lagi-lagi karena kecintaannya itu, sampai-sampai dibela dengan mati-matian, dengan menghalalkan segala cara. Meskipun seiring dengan berjalannya waktu telah terbukti kecacatannya, kelemahannya, dan keabsahannya sebagai pijakan.

Jika dianalogikan, karena kecintaannya, batu yang licin atau tajam tetap dipakai sebagai pijakan, meski terlihat ada batu lain yang lebih kokoh dan aman untuk dipakai sebagai pijakan.
Laa Ilaaha Ilalloh

Tiada tuhan selain Alloh. Namun kata “Illah” dalam kalimat tersebut tidak semata berarti “Tuhan”. Dalam terminologi bahasa Arab, ada kata Illah berarti tuhan yang “the ultimate one”. Ada kata lain dalam bahasa Arab yang juga bisa diartikan sebagai “Tuhan”, yaitu kata “Rabb” atau “Rabbil” seperti dalam kalimat “Alhamdulillahirobbil Alamiin”.

Pada masa jahiliyah, banyak diantara penyembah berhala yang menolak untuk mengucapkan kalimat Syahadat karena konsekuensi menyebut Allah sebagai Illah adalah sangat berat. Mereka tidak lagi bisa menuhankan, mengidolakan, memuja, atau mencintai selain Alloh, melebihi Alloh sendiri, dan mereka harus meninggalkan agama dan tradisi lama yang selama ini mereka jaga. Hal ini harus benar-benar kita sadari, karena kenyataan di sekitar kita sampai saat ini, masih banyak umat Islam yang masih belum bisa menempatkan Alloh sebagai “Illah”. Masih banyak diantara kita yang masih menempatkan Alloh sebagai “Rabb” saja. Masih banyak diantara kita yang masih memelihara tradisi-tradisi yang sebenarnya berseberangan dengan syariah. Sebut saja seperti kejawen, haul, ruwatan, selametan, atau tradisi lain yang sebenarnya itu bid’ah yang nabi sendiri tidak pernah mengajarkannya kepada kita.

Kemudian lagi-lagi hal ini berawal dari kecintaan yang berlebihan terhadap sesuatu selain Aloh. Dan dengan kata lain, percuma jika kita berdzikir, tetapi masih mengamalkan semua itu. Percuma juga kita ibadah dalam hidup ini jika Illah kita bukan Alloh.
Allohu Akbar

Alloh Mahabesar. Besar dalam arti harfiah, lahiriah, ataupun besar sebagaimana kita menyebut seseorang yang berjasa sebagai orang besar. Namun dalam hal ini konteks “besar” sudah pada level yang sama sekali berbeda. Jauh diatas melampaui konteks “kebesaran” yang bertebaran di dunia ini.

Dilihat dari fungsinya, kalimat Allahu Akbar itu memiliki fungsi yang mirip dengan kalimt “banzai” dalam bahasa Jepang, namun dalam tataran dan level yang sama sekali berbeda.

Ketika ada sesuatu yang besar menghadang dalam menjalani kehidupan, sesuatu yang lebih dari sekedar batu sandungan dalam hidup ini, kita harus ingat, bahwa ada yang lebih besar dari semuanya. Sesuatu yang lebih besar, yang mampu dan punya kuasa untuk membuat segalanya terjadi. Maka kepada-Nya yang Mahabesar-lah kita kembalikan semuanya.

Begitupun ketika kita sedang down, harus kita sadari bahwa ada sesuatu yang Mahabesar, dan karena ke-Mahabesaran-Nya itu, hanya Dia yang bisa menolong kita

Mahabesar, dan karena kebesarannya, semua yang ada akan terlihat kecil dihadapannya. Bahkan bukan hanya terlihat, namun juga menjadi benar-benar kecil dihadapan-Nya.

Jangankan jika dibandingkan dengan-Nya, dengan salah satu ciptaan-Nya saja kita masih sangat kecil. Lalu hanya karena merasa sedikit beruntung, ada diantara kita lantas menjadi sombong. Hanya karena mejadi sedikit lebih besar, atau lebih tinggi derajatnya dihadapan orang lain, kita seringkali lupa dan akhirnya menjadi sombong. Lantas apa hak kita untuk sombong dihadapan manusia?

Tidakkah kita ingat, ketika iblis diusir dari surga krena kesombongannya? Tidakkah kita ingat karena kesombongannya itu pula, iblis dilaknat Alloh SWT sampai hari pembalasan nanti?

Berdzikir bisa memberikan kedamaian di dalam hati kita. Namun tentu saja jika kita memahami makna dari tiap kata yang diucapkan ketika berdzikir. Dan hanya ketika itu pula kita bisa merasakan kenikmatan dalam berdzikir. Rasanya seperti kenikmatan yang kita rasakan ketika mengingat orang yang kita cintai, namun dalam taraf yang lebih tinggi, dan lebih syahdu. Karena yang kita cintai dan kita lamunkan kala itu adalah the ultimate one, yang memang jauh lebih tinggi dari sekedar “seseorang”.

Dzikir juga berfungsi sebagai media pengendalian diri serta untuk mendekatkan diri kepada Alloh. Ketika kita merasa kurang bersemangat, stress karena permasalahan hidup, kita teriakkan “Allohu Akbar” dari dalam lubuk hati yang paling dalam, untuk membakar semangat, menjaga kita agar tidak jatuh ke dalam jurang keterpurukan. Ketika kita terpukau, terperana oleh keindahan ciptaan-Nya, kita mengucapkan “Subhanalloh” dan “Alhamdulillah” agar kita senantiasa terjaga, dan akan selalu ingat bahwa semua ini adalah fana, dan bagaimanapun indahya, tetap merupakan ciptaan Alloh.

Ketika kita marah, atau sedang bersedih, dengan berdzikir pula kita bisa lebih mengendalikan diri kita agar jangan sampai dikendalikan oleh amarah atau perasaan negatif lainnya.

Kemudian yang seringkali kita lalai adalah bahwa tidak ada batasan dalam dzikir, berapa kalipun banyaknya, berapa seringpun kita ucapkan. Adakalanya kita terlalu fokus kepada kuantitas dzikir kita. Kita hanya mengejar jumlah tertentu yang harus diucapkan dalam satu hari. Kita menjadi terjebak dalam ibadah dzikir yang kosong, tanpa makna. Hanya satu ritual yang dilakukan berkali-kali dengan membaca mantra yang disebut “dzikir”.

Dalam berdzikir yang paling penting adalah kualitas. Yang paling penting adalah penjiwaan dan penghayatan atas kehadiran Alloh. Karena sesungguhnya esensi dari dzikir itu sendiri adalah mengingat Alloh, merenungkan kebesaran-Nya, dan kefanaan kita sebagai manusia.

Dan satu hal lagi yang sering kita lalai adalah bahwa Alloh itu Mahamendengar, jadi tidak perlu pengeras suara untuk berdzikir. Dzikir adalah ibadah yang bersifat intim dan personal antara Alloh dan masing-masing dari diri kita. Sama seperti halnya dengan Qiyamullail atau sholat malam.

Cara berdzikirpun tidak hanya dengan mengucapkan kalimat toyyibah. Ketika kita menyendiri, merenung sendiri, tenggelam dalam alam pikiran kita dengan merenungkan keberadaan kita, Alloh, dan alam semesta, serta ketika kita merenungkan tentang kefaaan kita, maka hal itu juga termasuk dalam dzikir. Karena esensi dari ibadah dzikir adalah mengingat Alloh dan segala kebesaran-Nya. Wallohua’lam bisshowb.

Minggu, 26 April 2009

Do it for a reason (tentang ikhlas, doa, hajat, dan turunannya)

Beberapa waktu yang lalu saya membaca blog dari seorang kawan yang isinya tentang ikhlas, dan dengan judul yg sama dengan apa saya tulis di sini. Ada satu kalimat yg saya rasa kurang tepat. Dan saya ingin mengomentari kalimat itu, dan juga semoga apa yg saya sampaikan ini bermanfaat bagi saudaraku sekalian.



Tentu semua orang tahu apa itu ikhlas. Namun apakah salah jika kita beribadah untuk mengharapkan sesuatu dari Alloh? Apakah salah jika kita berinfak atau bershodakoh karena mengharapkan Alloh mau menjaga harta kita, dan mengharap agar Alloh memberi kita rizki yg lebih banyak? Atau dengan kata lain, apakah salah jika berharap doa kita kan lebih cepat terkabul melalui ibadah lain? Tentu tidak salah kawan. Karena ikhlas adalah melakukan sesuatu semata karena Alloh. Dan jika kita mengahrapkan sesuatu dari-Nya, tentu tidak mengapa. Bahkan Alloh sendiri menganjurkannya. Alloh suka kepada hambaNya yg senantiasa meminta kepadaNya. Atau dengan kata lain, Alloh suka dengan hambaNya yg suka berdoa kepadanya. Karena Doa sendiri adalah ibadah.



Ustad Yusuf Mansur dalam salah satu bukunya menyampaikan bahwa jika memiliki hajat / keinginan, kita diperbolehkan untuk memintanya kepada Alloh dengan media sholat, doa, ataupun shodakoh, dan tentu saja dengan dibarengi dengan usaha. Saya pernah mendengar komentar begini, “kalo ibadah ya ibadah aja, ndak usah pake minta-minta yg macem-macem. Itu namanya sampeyan ndak ikhlas ibadahnya.”



Lho ya!?,… itu komentar dari mana, dasarnya juga apa. Lhawong Alloh sendiri menyukai hambanya yang meminta kepada-Nya kok ini ada komentar semacam itu.



Jadi kawan, selama kita melakukan ibadah, atau hal lain karena selain Alloh, baru itu bisa disebut sebagai “tidak ikhlas”. Jadi, do it for a reason, and let the reason be your God. Even though if you meant something back from God. Sekarang, ketika kita beribadah bukankah mengharap sesuatu? Bukankah kita mengharap Surga Alloh? Jika tidak ada reward berupa Surga, dan ancaman berupa Neraka, apakah kita masih akan beribadah kepada Alloh? Kecuali jika kita sudah mencintai Alloh dengan tanpa syarat (seperti para kaum sufi).



Logikanya, jika kita dan jin diciptakan untuk beribadah kepada Alloh SWT, sebagaimana yg tertulis dalam surat Adz Dzaariyat ayat 56[i], dan jika meminta sesuatu kepada Alloh adalah ibadah, maka mengapa tidak? So do it for a reason, and let the reason be your God. Even though if you meant something back from God. Even though you want something back for a return.



Dalam syariah Islam diatur tata cara berdoa. Karena syariah mengatur hubungan antara manusia dengan Alloh, dan doa merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan Alloh. Dalam syariah dikatakan jika kita ingin doa kita lebih cepat dikabulkan, maka harus diiringi dengan ibadah lain untuk merayu Alloh. Dan Alloh sendiri memerintahkan kita untuk berdoa kepadaNya lewat firman-Nya pada surah Al Mukminun (40) ayat 60 “Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[ii] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”



Doa sendiri dalam hidup ini memiliki fungsi untuk mengkomunikasikan kepentingan manusia kepada Alloh SWT, apapun kepentingan itu. Entah kepentingan yg berhubungan dengan dunia, maupun akhirat. Dengan doa, kita menyampaikan keluhan-keluhan kita, mengadukan permasalahan dan problematika kehidupan yg sedang kita hadapi. Dan sesungguhnya Allah SWT merasa malu jika tidak mengabulkan permohonan seorang hamba-Nya yang mengadahkan tangannya dengan khusuk dan khidmat pada saat dia berdoa kepada Alloh. Rosululloh SAW bersabda,



“Sesungguhnya Alloh merasa sagat malu kepada hamba-Nya ketika hamba-Nya mengadahkan kedua tangan-Nya (berdoa), memohon yg baik, (Alloh merasa malu) mengembalikannya dalam keadaan hampa” (HR. Ahmad)



“Apabila kamu memohon kepada Alloh, wahai manusia, maka mohonlah dengan yakin bahwa Alloh pasti kan menerima doamu. Karena sesungguhnya Alloh tidak akan menerima doa hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya yang timbul dari hati yang lalai” (HR. Ahmad)



Maka jelaslah sudah jika kita beribadah, melakukan kebaikan karena ingin doa kita dikabulkan, maka hal itu tidaklah salah. Selama doa dan keinginan kita tidak datang dari hati yg lalai. Selama doa dan keinginan kita itu tidak bertujuan untuk bermaksiat kepada Alloh SWT. Dan cara-cara beribadah yg memang bertujuan agar hartanya dilindungi, atau agar hajatnya terkabul tidaklah salah. Bahkan doa atau keinginan yang disampaikan dengan cara ini memiliki fungsi yang lain seperti:



1. Orang yg selalu membasahi bibirnya dengan doa dan dzikrullah, maka ia akan memperoleh ketenangan dan kedamaian dalam hatinya. Tidak mudah dihinggapi perasaan susah ketika ditimpa musibah serta tidak mudah putus asa dalam mengahadapi realita hidup. “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” {QS. Ar Ra’d(13) ayat 28}.



2. Orang yg selalu berkomunikasi dengan Alloh SWT melalui doa, maka ia akan sealu diperhatikan oleh Alloh. Logikanya, jika anda memiliki 1000 orang anak buah, maka bukankah anda akan selau memperhatikan anak buah anda yang paling sering berkominukasi dan berinteraksi dengan anda? Sama halnya kita dengan Alloh. Dan doa adalah medianya.



Dalam sebuah hadist qudsi Rosululloh SAW menjelaskan: “Alloh SWT berfirman: Aku bersama hamba-Ku, selama dia mengingat Aku, dan selama kedua bibirnya bergerak menyebut-Ku (berdoa)” (HR. Ahmad, dari Jabir)



3. Orang yg selalu beribadah dan berdoa, akan menjadi orang yg kaya jiwanya dan terhindar dari keadaan fakir (dicukupkan semua kebutuhannya). Disebutkan dalam sebuah hadist qudsi: “Rosululloh bersabda: Alloh berfirman: Wahai manusia, luangkan waktumu untuk beribadah (berdoa) kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhkan dadamu dengan kekayaan hati, dan aku akan menutupi kefakiranmu. Jika tidak kamu lakukan itu (tidak mau berdoa), maka akan aku penuhkan kedua tanganmu dengan kesibukan dan aku tidak akan meutupi kefakirannmu.” (HR. Thirmizi dari Abu Hurairah RA)



Dan jika kita tilik lebih dalam makna dari hadist di atas, jika seseorang tidak pernah mau untuk beribadah ataupun berdoa, ataupun beribadah untuk berdoa, maka dalam hidupnya dia tidak akan merasa cukup dengan segala yang dia dapatkan. Sekalipun hidupnya bergelimang dengan harta, dan Alloh akan semakin menyibukkan dia dengan kesibukan duniawinya.



Kata “fakir” yg dimaksud dalam hadist qudsi diatas memiliki arti fakir dalam harta, maupun merasa fakir meski hidupnya bergelimang harta. Atau dalam kata lain selalu merasa kurang dengan apa yg didapatnya dan kurang bisa bersyukur atas nikmat Alloh yg dia dapatkan. Kata “fakir” dalam hadist qudsi diatas juga bisa diartikan sebagai “kesusahan” atau “permasalahan”, atau bisa juga “cobaan”. Jadi kalimat “…Aku akan penuhkan dadamu dengan kekayaan hati, dan aku akan menutupi kefakiranmu.” Juga bisa diartikan bahwa Alloh akan memenuhi dada kita dengan iman yg lebih kokoh, serta semua kesusahan atau cobaan yg ditimpakan kepada kita akan diringankan oleh-Nya.



“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.” {Surah Az Zuhruuf(43) ayat 36 sampai 37. Begitu pentingnya kedudukan doa dalam hidup kita, karena sesungguhnya doa itu sendiri merupakan intisari dari semua ibadah kita kepada Alloh SWT. Bukan sebaliknya. So do it for a reason, and let the reason be your God. Even though if you meant something back from God. Even though you want something back for a return. Because “it” is also a pray, and praying is the essence of all of “it”[iii]. Wallohua’lam Bisshowab.







By: Arudatu

jalesveva_2005@yahoo.com

http://arudatu.blogspot.com

D’Etuva Spaghetti n Pasta





[i] Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Adz Dzaariyat ayat 56)

[ii] Yang dimaksud dengan menyembah-Ku di sini ialah berdoa kepada-Ku.

[iii] “it” disini berarti ibadah lain selain doa.